Market Update Bancassurance Agustus 2020

Dalam rapat FOMC terakhir, The Fed menyatakan komitmennya untuk mempertahankan stimulus moneter & kebijakan akomodatif guna mendukung pemulihan ekonomi Amerika Serikat. Apakah kondisi ini menjadi dukungan bagi pasar obligasi Indonesia?

Kebijakan akomodatif The Fed berdampak positif pada pasar obligasi Indonesia. Kami memperkirakan bahwa kebijakan suku bunga rendah The Fed akan membuat imbal hasil US Treasury tahun ini bergerak di bawah level 1%. Imbal hasil US Treasury yang diperkirakan terjaga <1% membuat selisih imbal hasil terhadap obligasi pemerintah Indonesia menarik, masih diatas 550bps. Kami memperkirakan bahwa kebijakan akomodatif Fed akan dipertahankan setidaknya sampai dengan 2022 untuk menopang likuiditas dan proses pemulihan ekonomi. Era suku bunga rendah akan mendorong beralihnya aliran dana ke aset yang menawarkan potensi imbal hasil yang lebih atraktif seperti obligasi Indonesia. Saat ini obligasi Indonesia – baik dalam denominasi rupiah dan dolar – menawarkan selisih imbal hasil yang menarik terhadap US Treasury dan selisih imbal hasil tersebut belum kembali ke periode pra-pandemi.

Dibandingkan dengan pasar saham, pasar obligasi terlihat lebih ‘imun’ terhadap kekhawatiran gelombang kedua dan masih terus bertambahnya jumlah kasus Covid-19 di dalam negeri. Apa komentar anda akan hal ini?

Sesungguhnya pasar obligasi Indonesia tidak sepenuhnya imun, akan tetapi investor mengesampingkan data meningkatnya penyebaran virus dan berfokus kepada tema yield hunting ditengah likuiditas yang membanjir. Mengapa pasar obligasi Indonesia terlihat lebih imun dibandingkan pasar saham, karena didukung oleh imbal hasil riil obligasi Indonesia yang  menarik – salah satu tertinggi di kawasan – dan likuiditas perbankan yang tinggi disebabkan oleh rendahnya penyaluran kredit di tahun ini. Tingginya likuiditas perbankan menyebabkan permintaan akan obligasi tenor pendek dan tenor panjang meningkat. Faktor makro domestik lainnya seperti outlook suku bunga dan rupiah yang cenderung stabil turut mendukung kinerja pasar obligasi Indonesia. Pembalikan sentimen investasi – masuknya aliran dana asing dengan jumlah yang substansial – memperhitungkan kepemilikan asing yang relatif rendah <30% berpotensi membuat imbal hasil obligasi pemerintah  IDR tenor 10 tahun untuk turun lebih dalam lagi dari level saat ini.

Baru-baru ini pemerintah dan Bank Indonesia sepakat untuk berbagi beban melalui skema burden sharing dalam pembiayaan penanganan dan pemulihan ekonomi akibat dampak Covid-19. Bagaimana dampak skema burden sharing terhadap pasar obligasi?

Sejauh ini pasar menerima dengan positif kebijakan burden sharing antara pemerintah dan Bank Indonesia, karena skema ini memungkinkan pembiayaan defisit tanpa perlu memberikan tekanan berlebih pada pasar obligasi dan di saat yang sama juga mengurangi beban pemerintah. Obligasi yang dikeluarkan dalam skema ini bisa diperdagangkan di pasar sekunder dan dapat digunakan oleh Bank Indonesia untuk operasi moneter. Berulang kali pemerintah dan Bank Indonesia menekankan bahwa kebijakan ini adalah one-off policy dan untuk menjaga mekanisme pasar tetap baik Bank Indonesia hanya akan menjadi stand-by buyer. Menariknya, di tengah pengumuman kebijakan burden sharing di bulan Juli lalu, pasar obligasi Indonesia membukukan kenaikan bulanan tertinggi diantara obligasi emerging market dengan peringkat kredit yang sama. Kenaikan aliran dana asing yang hampir dua kali lipat di bulan Juli – dibandingkan dengan Juni – mencerminkan toleransi investor yang lebih besar terhadap kebijakan burden sharing ini.

Melambatnya pertumbuhan ekonomi menjadi salah satu faktor risiko yang perlu dicermati khususnya pada obligasi korporasi. Apa strategi yang diterapkan dalam hal pemilihan investasi pada obligasi korporasi guna memitigasi risiko tersebut?

Guna meminimalisir risiko kredit pada obligasi korporasi kami menerapkan analisa kredit internal yang ketat – meliputi ongoing review dan monitoring – melakukan limitasi pembobotan investasi pada setiap nama perusahaan dan diversifikasi sektoral. Kami fokus berinvestasi pada perusahaan dengan kualitas tinggi yang memiliki fundamental baik, profil kredit yang kuat, strong parental support dan tidak terkena dampak yang besar dari Covid-19. Sejauh ini strategi investasi yang diterapkan terbukti berhasil memberikan booster kinerja yang baik pada portofolio dengan tingkat volatilitas yang relatif rendah. Ke depannya kami akan terus melakukan analisa dampak kondisi ekonomi terhadap emiten obligasi korporasi yang ada dalam portofolio.

Di tengah masih tingginya ketidakpastian pasar apa strategi investasi yang diterapkan guna menghasilkan alpha pada portofolio?

Untuk aset obligasi dalam denominasi rupiah kami jaga pada durasi tactical overweight – baik bagi portofolio dengan durasi pendek ataupun menengah – memanfaatkan kebijakan suku bunga rendah BI, stabilitas rupiah, likuiditas dalam negeri yang masih tinggi dan porsi asing yang relatif lebih rendah. Sementara untuk aset obligasi dalam denominasi dolar kami jaga pada durasi tactical overweight memanfaatkan kebijakan akomodatif Fed dan pasokan yang sudah lebih terbatas pada obligasi INDON di tahun ini. Selain itu kami juga terus mencermati likuiditas dan volatilitas untuk memastikan pengelolaan investasi akan memberikan hasil optimal dengan risiko yang terkendali.

 

 


 

Seeking α adalah komunikasi bulanan yang dirilis oleh PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI). Disampaikan dalam format Tanya-jawab, Seeking α ditujukan untuk menyajikan pandangan para ahli investasi MAMI yang berorientasi ke depan, langsung ke hadapan Anda, para investor profesional MAMI.

Bulan ini kami mengetengahkan komentar pasar terkini dari Director & Chief Investment Officer – Fixed Income, Ezra Nazula. 

Ezra Nazula
Director & Chief Investment Officer - Fixed Income

 

Bertanggung jawab atas pengelolaan investasi pendapatan tetap. Memperoleh izin Wakil Manajer Investasi dari Bapepam- LK berdasarkan Surat Keputusan Ketua Bapepam- LK nomor KEP-20/PM/WMI/2005 tanggal 15 Februari 2005. Ezra memulai karir profesionalnya di Chase Global Funds, Boston, MA, USA dan melanjutkan karirnya ke Panin Securities dan HSBC Jakarta. Ia pertama kali bergabung dengan PT Manulife Aset Manajemen Indonesia pada 2003, sebelum memutuskan untuk bergabung dengan AIA sebagai Head of Investment dan kembali ke PT Manulife Aset Manajemen Indonesia pada November 2011. Ezra memperoleh gelar MBA dari Northeastern University, Boston, USA.

 

 

 

PENGUNGKAPAN DAN SANGGAHAN:

Informasi di dalam dokumen ini disusun berdasarkan sumber yang dapat dipercaya oleh PT Manulife Aset Manajemen Indonesia namun PT Manulife Aset Manajemen Indonesia tidak menjamin keakuratan, kecukupan, atau kelengkapan informasi dan materi yang diberikan. Baik PT Manulife Aset Manajemen Indonesia atau afiliasinya, maupun direksi, pejabat atau pegawainya tidak bertanggung jawab atas segala konsekuensi hukum dan keuangan yang timbul, baik terhadap atau diderita oleh orang atau pihak apapun dan dengan cara apapun yang dianggap sebagai akibat dari tindakan yang dilakukan atas dasar keseluruhan atau sebagian dari dokumen ini.

Dokumen ini disusun untuk tujuan pemberian informasi dan tidak dimaksudkan untuk memberikan rekomendasi, nasihat professional, penawaran, penjualan atau ajakan oleh atau atas nama PT Manulife Aset Manajemen Indonesia kepada siapa pun untuk melakukan pembelian atau penjualan efek. Dokumen ini tidak memuat nasihat investasi, hukum, akuntansi, perpajakan atau pernyataan bahwa suatu investasi atau strategi sesuai atau cocok untuk kondisi Anda, atau merupakan rekomendasi personal untuk Anda. Analisa trend ekonomi di dalam dokumen ini tidak mengindikasikan hasil kinerja investasi masa depan. Dokumen dan pendapat yang disampaikan di dalam dokumen ini dibuat oleh PT Manulife Aset Manajemen Indonesia pada tanggal publikasi dokumen, dan dapat berubah sesuai dengan kondisi pasar atau lainnya. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang. Investasi mengandung risiko, termasuk risiko berkurangnya nilai awal investasi. Dalam melakukan investasi, apabila ada keraguan, disarankan untuk berkonsultasi dengan penasihat profesional.

PT Manulife Aset Manajemen Indonesia adalah perusahaan Manajer Investasi dengan izin dari Bapepam No. Kep-07/PM/MI/1997 tertanggal 21 Agustus 1997. PT Manulife Aset Manajemen Indonesia adalah bagian dari Manulife Asset Management. Informasi selengkapnya mengenai Manulife Asset Management dapat ditemukan di www.manulifeam.com. Manulife Asset Management, Manulife, dan desain logo Manulife adalah merk terdaftar dari Manufacturers Life Insurance Company dan digunakan oleh Manulife dan afiliasinya.