Olahraga lari merupakan salah satu jenis olahraga yang cukup populer di kalangan masyarakat. Selain mudah dan sederhana, olahraga lari juga menjadi pilihan bagi para pemula yang ingin membiasakan diri untuk mulai berolahraga.

Namun, tidak sedikit informasi keliru mengenai jenis olahraga ini yang sudah beredar dan terlanjur dipercaya oleh masyarakat luas. Agar tidak salah langkah, berikut beberapa mitos tentang olahraga lari yang harus segera ditepis.

Mitos 1: Olahraga lari hanya cocok untuk anak muda

Olahraga lari memerlukan energi yang banyak dan stamina yang tinggi. Oleh karena itu, hanya anak muda yang cocok untuk melakukan olahraga ini. 

Faktanya:

Fungsi otot dan tulang memang menurun seiring bertambahnya usia. Namun, olahraga lari bisa dilakukan oleh semua usia. Bahkan orang dewasa yang rutin melakukan olahraga lari justru akan semakin bugar hingga membuat wajah tampak segar. 

Mitos 2: Olahraga lari harus dilakukan setiap hari agar hasilnya maksimal

Olahraga lari setiap hari akan membuat kalori yang terbakar semakin banyak. Hasil yang diinginkan pun menjadi cepat tercapai dan maksimal.

Faktanya:

Tubuh memerlukan istirahat. Oleh karena itu, berilah jeda setiap satu hari, agar tubuh memiliki waktu untuk memulihkan tenaga kembali. Pada saat beristirahat, otot menjadi normal dan justru bisa bekerja lebih maksimal. Dengan melakukan olahraga lari dua hingga tiga kali dalam seminggu masing-masing 20 menit, bisa memberikan hasil yang lebih optimal.

Mitos 3: Olahraga lari tanpa alas kaki lebih menyehatkan

Olahraga dengan telanjang kaki dapat memberikan efek refleksi karena telapak kaki menyentuh tanah secara langsung. 

Faktanya:

Olahraga lari tanpa alas kaki cenderung meningkatkan risiko cedera. Sebab, otot dan sendi akan mengalami tekanan lebih besar. Selain itu, berlari tanpa alas kaki juga memungkinkan menginjak benda-benda berbahaya, pecahan kaca, atau benda tajam lainnya.

Mitos 4: Olahraga lari membahayakan lutut

Olahraga lari berarti memberikan tekanan lebih pada lutut, sehingga dapat membuatnya cedera.

Faktanya:

Jika lutut dalam kondisi normal, berolahraga lari tidak akan membahayakan bagian tubuh ini. Sebaliknya, rutin berlari justru akan membuat tulang dan ligamen menjadi lebih kuat dan padat.

Mitos 5: Kram pertanda dehidrasi dan kekurangan elektrolit

Kaki yang kram pada saat olahraga lari menandakan bahwa tubuh mengalami dehidrasi dan kekurangan elektrolit.

Faktanya:

Tubuh memang memerlukan elektrolit, terutama natrium dan kalium, serta kalori yang penting untuk menjaga kesehatan fisik dan mengganti cairan tubuh yang hilang. Namun, sebuah penelitian membuktikan bahwa kondisi kram pada pelari tidak ada hubungannya dengan kurangnya cairan atau elektrolit.

Masih banyak mitos lain seputar olahraga lari yang selama ini terlanjur dipercaya oleh masyarakat. Sekarang, Anda sudah tahu sebagian besar mitos ini sekaligus faktanya, kini saatnya untuk mengasah kemampuan Anda dalam olahraga lari.

Anda bisa memulainya dengan mengikuti ajang olahraga lari yang seru dan menyenangkan, seperti Danamon Run 2019 yang akan dilaksanakan pada 10 November 2019 di Kawasan ICE BSD, Tangerang Selatan.

Ada empat kategori jarak lomba lari yang ditawarkan, yaitu 5K, 10K, 15K, dan 21K. Keunikan Danamon Run adalah setiap peserta dapat menentukan sendiri finishnya saat berlari. Jadi jika Anda berencana lari 5K namun Anda merasa masih sanggup, Anda bisa melanjutkan lari sampai ke jarak finish yang Anda inginkan. Tunggu apa lagi? Yuk segera daftarkan diri Anda!