Market Update Bancassurance Desember

Sepanjang tahun 2018, berbagai sentimen global mulai dari kekhawatiran mengenai pertumbuhan ekonomi global, kenaikan suku bunga Amerika Serikat yang cukup agresif, dan konflik dagang membuat pasar bergerak fluktuatif. Bagaimana dengan outlook pertumbuhan ekonomi global di tahun 2019?

Moderasi pertumbuhan ekonomi global tampaknya akan menjadi tema 2019. Moderasi terjadi sebagai dampak atas konflik dagang berkepanjangan dan kenaikan suku bunga Amerika Serikat - diikuti beberapa negara berkembang - yang terjadi di 2018. Untuk tahun 2019 IMF memproyeksikan ekonomi global tumbuh 3.7%, sedikit turun dari ekspektasi sebelumnya di level 3.9%. Pada saat yang sama, dampak kenaikan suku bunga di 2018 baru akan ‘terasa’ terhadap ekonomi satu tahun setelahnya, yaitu di 2019.

Namun tidak seperti awal tahun 2018, saat ini faktor konflik dagang dan kenaikan suku bunga global telah diperhitungkan menjadi salah satu variabel ekspektasi di tahun 2019, sehingga dampak terhadap pasar finansial tidak akan sebesar dibandingkan tahun 2018. Lebih jauh mengenai konflik perdagangan, walaupun memang aktivitas manufaktur global saat ini mengalami sedikit pelemahan, namun sektor jasa (±69% dari PDB global) tetap kuat menjadi penopang pertumbuhan ekonomi global.

Seiring ekspektasi moderasi pertumbuhan ekonomi global tahun 2019, bagaimana pandangan Anda dengan arah kebijakan moneter dunia?

Moderasi pertumbuhan ekonomi global akan membuat tekanan kenaikan suku bunga berkurang, tidak seagresif tahun 2018, dan secara keseluruhan tetap akomodatif untuk menopang pertumbuhan ekonomi.

• Negara-negara maju:

Kenaikan Fed Rate diperkirakan tidak akan seagresif tahun 2018. Pudarnya dampak pemotongan pajak dan kenaikan suku bunga dua tahun terakhir membuat Amerika Serikat lebih berhati-hati menentukan arah suku bunga agar tidak menghambat pertumbuhan lebih lanjut. Selain itu, saat ini Fed Rate juga sudah mendekati zona netral 3%. Selain Amerika Serikat - yang arah kebijakan moneternya tidak lagi seketat tahun 2018 – bank sentral Eropa juga diperkirakan baru akan menaikkan suku bunga di 2020.

• Negara-negara berkembang:

Sebagian besar suku bunga negara berkembang sudah naik di 2018 mengikuti langkah agresif The Fed. Ke depannya - dengan inflasi yang masih terjaga rendah dan seiring dengan arah kebijakan The Fed - tekanan bagi bank sentral negara berkembang untuk menaikkan suku bunga juga jauh berkurang.

Bagaimana dengan peluang pasar saham Asia di 2019?

Kami memandang positif pasar saham Asia di 2019, di mana perubahan sentimen yang cukup drastis di 2018 membuat valuasi pasar saham Asia semakin menarik, valuasi turun ke level terendah - seperti tahun 2015 yang mencerminkan ekpektasi pertumbuhan laba negatif - walaupun kondisi fundamentalnya tetap sehat. Di lain pihak, laba korporasi masih tumbuh positif di 2018. Sejalan dengan normalisasi pertumbuhan ekonomi global, ekspektasi pertumbuhan laba korporasi di negara maju diproyeksikan mengalami penurunan (dari kisaran 19% di 2018 ke kisaran 8.2% di 2019) sementara proyeksi pertumbuhan laba korporasi pasar Asia relatif stabil (dari kisaran 9.6% di 2018 ke kisaran 8.4% di 2019). Dengan memperhitungkan ekpektasi pertumbuhan laba yang lebih baik dan valuasi yang menarik maka tahun 2019 menjadi entry point atraktif untuk pasar finansial Asia. 

Apakah konflik dagang Amerika Serikat-China akan mereda di 2019?

Perkembangan konflik dagang tetap akan menjadi faktor yang sulit ditebak karena masih dipenuhi ketidakpastian. Berita positif dan negatif mengenai tarik ulur Amerika Serikat - China datang silih berganti membawa sentimen yang juga dapat berbalik arah secara drastis. Konflik dagang yang berkepanjangan di 2019 bisa saja terjadi, namun sepertinya puncak friksi dari konflik dagang Amerika Serikat - China sudah terjadi di 2018. “Gencatan senjata” 90 hari yang disepakati kedua negara setidaknya membuat pasar lebih tenang, sementara negosiasi terus dilakukan untuk menghasilkan rincian kesepakatan lebih lanjut yang lebih konkrit dan diharapkan pasar bersifat final. Langkah Amerika Serikat yang akan menunda kenaikan tarif impor dari 10% menjadi 25% atas USD200 miliar produk (yang tadinya akan berlaku di 1 Januari 2019) juga disambut pasar dengan baik. Jika perkembangan positif ini dapat dipertahankan maka kepercayaan investor akan semakin terbangun, pasar dan sektor yang paling berdampak akan mendapatkan dorongan positif, khususnya bagi China A-shares, pasar finansial Asia Utara & saham-saham eksportir. 

Beralih ke pasar domestik, apakah konsumsi masih menjadi fokus pemerintah di tahun 2019?

Konsumsi akan tetap menjadi fokus pemerintah di 2019 terlihat dari anggaran belanja fiskal yang tetap ekspansif:

• Anggaran infrastruktur tidak terlalu berubah sementara belanja subsidi flat, hanya turun sekitar 2%.

• Anggaran bantuan sosial dan dana desa masing-masing meningkat lebih dari 20%. Disertai dengan pencairan tepat waktu, daya beli masyarakat khususnya menengah ke bawah akan semakin terbantu.

Memperhitungkan kenaikan upah nominal, inflasi yang terkendali, subsidi dan belanja sosial yang lebih tinggi, sebenarnya kenaikan daya beli masyarakat tahun 2019 mencapai lebih dari 10%. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikan UMP tahun ini sebesar 8.03%.

Bagaimana dengan defisit neraca berjalan yang tahun 2018 menjadi salah satu fokus pasar, akankah mitigasi yang sudah dilakukan pemerintah dapat memperbaiki kondisi defisit tahun 2019?

Mitigasi pemerintah untuk menekan defisit neraca berjalan sudah berada pada jalur yang tepat, namun hasilnya akan terjadi secara gradual, tidak instan. Di 2019, kami memperkirakan tetap ada tekanan pada defisit neraca berjalan, khususnya belanja impor pemerintah terkait pembangunan infrastruktur yang masih berlangsung dan belanja impor swasta seiring pemulihan permintaan domestik. Diperkirakan tren menurunnya surplus pada neraca non-migas dan meningkatnya defisit pada neraca migas akan tetap tinggi, jika kenaikan harga minyak dunia tetap diiringi oleh pembatasan kenaikan harga subsidi BBM yang sarat penyalahgunaan. 

Di penghujung tahun 2018 nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menguat cukup signifikan, apakah tren ini akan berkelanjutan? Bagaimana pandangan Anda mengenai nilai tukar Rupiah di 2019?

Setelah mengalami tekanan yang cukup besar di 2018, intensitas tekanan rupiah di 2019 diperkirakan mereda, ditopang oleh suku bunga riil yang semakin menarik di tengah inflasi yang terjaga dan berbagai kebijakan pemerintah yang secara gradual akan membuahkan hasil:

• Upaya menurunkan defisit neraca berjalan.

• Upaya peningkatan DHE, yang mewajibkan perusahaan sumber daya alam mengembalikan sepenuhnya hasil ekspor ke rekening perbankan dalam negeri dalam mata uang rupiah.

• Domestic NDF yang diharapkan dapat mengurangi volatilitas rupiah dengan hedging cost yang lebih murah bagi korporasi dan mengurangi spekulasi terhadap pasar NDF luar negeri.

Pasar saham domestik tahun ini tertekan oleh sentimen baik global maupun domestik. Bagaimana potensi pertumbuhan pasar saham Indonesia di 2019?

Potensi pertumbuhan pasar saham 2019 diperkirakan akan lebih baik dibandingkan tahun 2018, diuntungkan oleh valuasi yang menarik dan penyesuaian ekspektasi 2018 yang membawa valuasi pasar saham ke level yang semakin atraktif. Penyesuaian ekspektasi membawa valuasi saat ini ke level di bawah rata-rata 5 tahun, jauh lebih rendah dibandingkan dengan awal tahun sebesar +2 standar deviasi. Rendahnya kepemilikan asing serta pertumbuhan pasar saham Indonesia yang tidak sejalan dengan proyeksi pertumbuhan laba korporasi di tahun ini, membuat potensi pertumbuhan pasar saham Indonesia 2019 semakin atraktif. Momentum pertumbuhan laba korporasi - yang sampai kuartal ketiga 2018 ini tetap baik - diharapkan akan terus berlanjut di 2019.

Walaupun tidak lagi agresif, tapi kenaikan Fed Rate maupun suku bunga acuan Bank Indonesia diperkirakan masih terjadi di 2019. Bagaimana pasar obligasi domestik menanggapi situasi ini tahun depan?

Tahun 2019, tekanan terhadap pasar obligasi diperkirakan akan semakin berkurang, didukung oleh stabilitas rupiah dan arah kebijakan moneter yang semakin suportif. Langkah preemptif pemerintah & Bank Indonesia untuk memperbaiki postur fiskal, defisit neraca berjalan dan volatilitas nilai tukar rupiah diapresiasi oleh investor. Hal ini terlihat dari akumulasi pembelian asing yang cukup besar di kuartal terakhir 2018. Stabilitas rupiah & berkurangnya agresivitas pengetatan moneter baik The Fed dan Bank Indonesia akan menopang pasar obligasi di 2019.


 

 

Seeking α adalah komunikasi bulanan yang dirilis oleh PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI). Disampaikan dalam format Tanya-jawab, Seeking α ditujukan untuk menyajikan pandangan para ahli investasi MAMI yang berorientasi ke depan, langsung ke hadapan Anda, para investor profesional MAMI.
Bulan ini kami mengetengahkan komentar pasar terkini dari Chief Economist & Investment Strategist, Katarina Setiawan.

Katarina Setiawan
Chief Economist & Investment Strategist

 

Katarina bergabung dengan PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) pada 1 Juli 2013. Ia memperoleh izin Wakil Manajer Investasi dari Bapepam-LK pada 30 April 1999 dengan no.: KEP-28/PM/IP/WMI/1999. Ia telah memiliki pengalaman selama lebih dari 20 tahun di industri keuangan dan pasar saham. Sebelum bergabung dengan MAMI, Katarina bekerja di Kim Eng Securities sebagai Research Director. Sebelumnya Katarina bekerja sebagai Director di IBAS Consulting, Director di Omni Nusantara dan Supervisor Consultant di Arthur Andersen & Co. Katarina menyandang gelar Master of Business Administration dari Indiana University di Bloomington, USA

 

 

 

PENGUNGKAPAN DAN SANGGAHAN:

Informasi di dalam dokumen ini disusun berdasarkan sumber yang dapat dipercaya oleh PT Manulife Aset Manajemen Indonesia namun PT Manulife Aset Manajemen Indonesia tidak menjamin keakuratan, kecukupan, atau kelengkapan informasi dan materi yang diberikan. Baik PT Manulife Aset Manajemen Indonesia atau afiliasinya, maupun direksi, pejabat atau pegawainya tidak bertanggung jawab atas segala konsekuensi hukum dan keuangan yang timbul, baik terhadap atau diderita oleh orang atau pihak apapun dan dengan cara apapun yang dianggap sebagai akibat dari tindakan yang dilakukan atas dasar keseluruhan atau sebagian dari dokumen ini.

Dokumen ini disusun untuk tujuan pemberian informasi dan tidak dimaksudkan untuk memberikan rekomendasi, nasihat professional, penawaran, penjualan atau ajakan oleh atau atas nama PT Manulife Aset Manajemen Indonesia kepada siapa pun untuk melakukan pembelian atau penjualan efek. Dokumen ini tidak memuat nasihat investasi, hukum, akuntansi, perpajakan atau pernyataan bahwa suatu investasi atau strategi sesuai atau cocok untuk kondisi Anda, atau merupakan rekomendasi personal untuk Anda. Analisa trend ekonomi di dalam dokumen ini tidak mengindikasikan hasil kinerja investasi masa depan. Dokumen dan pendapat yang disampaikan di dalam dokumen ini dibuat oleh PT Manulife Aset Manajemen Indonesia pada tanggal publikasi dokumen, dan dapat berubah sesuai dengan kondisi pasar atau lainnya. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang. Investasi mengandung risiko, termasuk risiko berkurangnya nilai awal investasi. Dalam melakukan investasi, apabila ada keraguan, disarankan untuk berkonsultasi dengan penasihat profesional.

PT Manulife Aset Manajemen Indonesia adalah perusahaan Manajer Investasi dengan izin dari Bapepam No. Kep-07/PM/MI/1997 tertanggal 21 Agustus 1997. PT Manulife Aset Manajemen Indonesia adalah bagian dari Manulife Asset Management. Informasi selengkapnya mengenai Manulife Asset Management dapat ditemukan di www.manulifeam.com. Manulife Asset Management, Manulife, dan desain logo Manulife adalah merk terdaftar dari Manufacturers Life Insurance Company dan digunakan oleh Manulife dan afiliasinya.


ALSO READ
MOST POPULAR